Ketegasan dan Humanisme AKBP Eliana Papote Perkuat Polri Presisi di Wilayah Perbatasan
Kepemimpinan AKBP Eliana Papote di Polres Timor Tengah Utara (TTU), Polda NTT menghadirkan wajah Polri yang tegas sekaligus humanis melalui pendekatan dialogis, kepedulian sosial, dan respons cepat terhadap berbagai persoalan masyarakat. Mulai dari penanganan konflik masyarakat perbatasan, penegakan hukum kehutanan, hingga penguatan toleransi sosial dinilai berhasil dan mendapat apresiasi dari sejumlah pihak.
Tribrataneswttu.com; Kefamenanu (9/5/2026) - Wilayah perbatasan tidak hanya menyimpan persoalan keamanan, tetapi juga kerentanan sosial yang membutuhkan pendekatan kemanusiaan. Di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, tantangan itu hadir dalam berbagai bentuk -- konflik masyarakat perbatasan, persoalan lingkungan, hingga isu toleransi sosial.
Di tengah kompleksitas tersebut, kepemimpinan Kapolres TTU AKBP Eliana Papote, S.I.K., M.M., mendapat perhatian karena dinilai mampu memadukan ketegasan hukum dan pendekatan humanis dalam pelaksanaan tugas kepolisian.
Transformasi Polri Presisi yang menekankan profesionalisme, prediktif, dan kepercayaan publik tampak diterjemahkan melalui pola kepemimpinan yang dialogis dan adaptif terhadap kondisi masyarakat perbatasan.
Salah satu ujian besar terjadi pada Agustus 2025 ketika ketegangan antara warga Inbate, TTU, dan warga Timor Leste kembali meningkat akibat sengketa batas wilayah yang telah berlangsung lama.
Situasi sempat memicu keresahan masyarakat setelah muncul dugaan penembakan terhadap warga di sekitar wilayah sengketa. Potensi konflik terbuka menjadi perhatian serius karena persoalan perbatasan selalu berkaitan dengan sensitivitas sosial masyarakat setempat.

Dalam situasi tersebut, Polres TTU memilih mengedepankan pendekatan persuasif melalui komunikasi lintas pihak, dialog adat, serta koordinasi bersama pemerintah daerah dan aparat keamanan Timor Leste.
Pendekatan itu dinilai mampu meredam ketegangan sekaligus menjaga hubungan sosial masyarakat perbatasan tetap kondusif.
Di sisi lain, ketegasan hukum juga menjadi bagian penting dalam kepemimpinan AKBP Eliana Papote. Hal itu terlihat dalam penanganan kasus illegal logging di wilayah TTU pada awal 2025.
Kasus tersebut menjadi perhatian publik setelah muncul dugaan keterlibatan oknum aparat. Dalam penanganannya, Polres TTU mengambil langkah tegas melalui pemeriksaan internal dan tindakan terhadap anggota yang diduga terlibat.
Proses hukum kemudian berjalan secara kolaboratif bersama aparat penegak hukum bidang kehutanan hingga perkara berlanjut ke tahap penuntutan.
Atas dukungan aktif dalam penegakan hukum kehutanan dan lingkungan hidup, Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan memberikan piagam penghargaan kepada Kapolres TTU.
Namun wajah kepemimpinan AKBP Eliana Papote tidak hanya terlihat dalam penanganan konflik dan penegakan hukum.
Pendekatan humanis tampak ketika Kapolres memberikan perhatian langsung terhadap Juan Alberto Margkes Sanbein, seorang anak penderita stunting dan tumor di TTU.

Bersama tenaga medis, Kapolres turun mengecek kondisi Juan dan membangun koordinasi agar anak tersebut memperoleh penanganan medis yang layak. Bantuan dari berbagai pihak kemudian mengalir hingga Juan dapat menjalani operasi dan perawatan intensif.
Langkah itu menghadirkan gambaran bahwa kehadiran kepolisian tidak semata diukur dari penegakan hukum, tetapi juga dari kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan masyarakat.
Pendekatan serupa terlihat dalam penanganan kasus pembakaran pohon Natal di Simpang Tiga Dalehi menjelang perayaan Natal 2025.
Melalui kerja cepat aparat kepolisian, pelaku berhasil diamankan dalam waktu kurang dari tiga hari. Namun upaya yang dilakukan tidak berhenti pada proses hukum semata.
Polres TTU juga membangun komunikasi intensif bersama tokoh agama, tokoh masyarakat, dan pemerintah daerah guna menjaga stabilitas sosial masyarakat tetap kondusif.
Sebagai bagian dari penguatan toleransi sosial, Kapolres TTU menginisiasi kegiatan Natal Bersama yang melibatkan unsur pemerintah daerah, TNI-Polri, tokoh lintas agama, dan masyarakat.

Pendekatan dialogis tersebut mendapat apresiasi dari berbagai kalangan karena dinilai mampu menjaga harmoni sosial di tengah masyarakat yang majemuk.
Berbagai langkah itu menunjukkan bahwa tantangan kepolisian modern, khususnya di wilayah perbatasan, tidak hanya berkaitan dengan penegakan hukum, tetapi juga kemampuan membangun kepercayaan publik dan memahami realitas sosial masyarakat.
Dalam perspektif humanisme modern, kepemimpinan tidak semata diukur dari kewenangan dan kekuasaan, melainkan dari kemampuan hadir secara etis terhadap kebutuhan masyarakat.
Di tengah kompleksitas wilayah perbatasan, perpaduan antara ketegasan hukum dan pendekatan kemanusiaan menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas sosial masyarakat.
Kepemimpinan AKBP Eliana Papote di Polres TTU memperlihatkan upaya menghadirkan Polri Presisi tidak hanya sebagai institusi penegak hukum, tetapi juga sebagai institusi yang membangun rasa aman, empati sosial, dan kepercayaan publik di tengah masyarakat.(resttu)**


