Cahaya di Balik Jeruji, Kala Aiptu Charles R. Selan Menabur Harapan di Rutan Polres TTU
Tribratanewsttu, kefamenanu – Dinding ruang tahanan (Rutan) Polres Timor Tengah Utara yang biasanya dingin dan sunyi, siang itu terasa berbeda Minggu, 26/04/2026, Tidak ada suara bentakan atau gemerincing kunci yang dominan, melainkan untaian kalimat teduh yang mengalir di sela-sela jeruji besi. Di sebuah lorong sempit, beralaskan kursi plastik sederhana, duduklah Aiptu Charles R. Selan.
Ia bukan sekadar hadir sebagai sosok polisi dengan otoritas hukum, melainkan sebagai seorang pelayan Tuhan. Di sela-sela kesibukannya menjalankan tugas negara, Aiptu Charles yang juga menjabat sebagai Majelis Gereja Petra Kefamenanu, mendedikasikan waktunya untuk menyentuh sisi terdalam kemanusiaan para tahanan melalui bimbingan rohani dan mental.
Aiptu Charles tertunduk khusyuk membaca kitab suci, sementara tiga orang tahanan menyimak dari balik terali besi. Momen ini menjadi bukti nyata bahwa tugas kepolisian tidak selamanya tentang penegakan hukum yang kaku atau penghukuman fisik. Ada ruang besar bernama "restorasi jiwa" yang sedang diupayakan.
Bagi Aiptu Charles, para tahanan ini bukanlah sekadar angka dalam catatan kriminal, melainkan pribadi yang sedang kehilangan arah dan membutuhkan pegangan untuk kembali tegak. "Hukum memang harus ditegakkan untuk keadilan, namun nurani harus tetap dirawat agar mereka punya alasan untuk menjadi manusia yang lebih baik saat bebas nanti," ungkapnya dalam pesan tersirat melalui kegiatan tersebut.
Kegiatan pembinaan rohani ini difokuskan untuk memperkuat mental para penghuni rutan yang seringkali terpuruk dalam rasa bersalah, kemarahan, atau keputusasaan. Dengan membawakan firman Tuhan dan motivasi hidup, Aiptu Charles mencoba meruntuhkan dinding pembatas antara "petugas kepolisian" dan "pelanggar hukum", menggantinya dengan ikatan emosional antara sesama mahluk ciptaan Tuhan.
Ketiga tahanan tersebut tampak mendengarkan dengan seksama. Di tempat yang serba terbatas seperti Rutan, kata-kata penguatan adalah Penyemangat, Bimbingan ini bertujuan agar selama masa penahanan, mereka tidak hanya menjalani hukuman fisik, tetapi juga menjalani masa refleksi diri (retret) yang dapat membawa perubahan pada diri mereka.
Apa yang dilakukan Aiptu Charles R. Selan adalah potret ideal dari Polri yang humanis. Ia menunjukkan bahwa pengabdian kepada masyarakat bisa dilakukan dalam berbagai bentuk, termasuk memastikan bahwa kesehatan mental dan spiritual para tahanan tetap terjaga.
Sebagai Majelis Gereja Petra, ia membawa nilai-nilai kasih dan pengampunan ke dalam lingkungan korps baju cokelat ( Polri ), Hal ini selaras dengan upaya institusi kepolisian untuk mengedepankan pendekatan persuasif dan edukatif.
peristiwa yang terjadi hari itu adalah merupakan harapan, Bahwa di tempat paling gelap sekalipun, cahaya kebenaran dan sentuhan kasih tetap bisa masuk, asalkan ada hati yang mau melayani. Aiptu Charles telah membuktikan bahwa di balik seragam polisi yang tegas, terdapat hati seorang gembala yang siap menuntun domba-domba yang sedang tersesat kembali ke jalan yang benar.
Melalui bimbingan rohani ini, diharapkan para tahanan di Polres TTU tidak hanya keluar dengan status "mantan narapidana", tetapi sebagai pribadi baru yang memiliki mentalitas yang kuat dan iman yang teguh untuk menata kembali masa depan mereka di tengah masyarakat.


