Menenun Damai dalam Kesederhanaan: Bhabinkamtibmas Tublopo Buktikan Pengabdian Lewat Kedekatan

Menenun Damai dalam Kesederhanaan: Bhabinkamtibmas Tublopo Buktikan Pengabdian Lewat Kedekatan
Foto : Sebuah ledakan tawa yang begitu lepas antara seorang abdi negara dan seorang warga lansia di desa tublopo, selasa 3 maret 2026. Dok Humas

Tribratanewsttu.com Tublopo, Bikomi Selatan – Di bawah naungan atap ilalang sebuah rumah di Desa Tublopo, Selasa (3/3/2026), sebuah pemandangan kontras namun menghangatkan hati. Bukan sebuah interogasi atau barisan pasukan bersenjata lengkap, melainkan sebuah ledakan tawa yang begitu lepas antara seorang abdi negara dan seorang warga lansia.

Ia adalah Aipda Julius Selan, seorang Bhabinkamtibmas yang namanya sudah tidak asing lagi bagi telinga warga setempat. Hari itu, matahari terasa terik namun suasana di pelataran rumah kayu itu justru terasa sejuk oleh keramahan. Mengenakan seragam kebanggaan Polri dengan atribut lengkap, Julius duduk sejajar tanpa jarak, tanpa sekat dengan seorang kakek tua yang gurat wajahnya menceritakan ribuan kisah tentang kerasnya kehidupan di pelosok.

Bagi Julius, menjadi Bhabinkamtibmas bukan sekadar menjalankan rutinitas pelaporan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas). Baginya, keamanan yang paling hakiki dimulai dari rasa percaya. Dan kepercayaan, menurut pria murah senyum ini, tidak bisa dibangun dengan instruksi yang kaku, melainkan dengan canda gurau dan kehadiran yang nyata.

Dalam foto tersebut, Aipda Julius tampak tertawa terpingkal-pingkal mendengar cerita sang kakek. Tidak ada kesan jaga image (jaim) atau batas otoritas yang kaku. Di saat itu, ia bukan sekadar aparat; ia adalah seorang anak yang sedang mendengarkan petuah atau mungkin humor jenaka.

"Tugas kami adalah menjaga hati rakyat. Jika hatinya sudah kita menangkan, maka menjaga keamanan desa akan jauh lebih mudah karena masyarakat merasa memiliki polisi mereka," ungkap sebuah filosofi yang tersirat dari kedekatannya.

Potret ini menjadi pengingat di tengah era digital yang serba cepat, bahwa sentuhan manusiawi (human touch) tetap menjadi instrumen paling ampuh dalam pengayoman. Kehadiran Aipda Julius di Desa Tublopo membuktikan bahwa Polri masa kini adalah Polri yang hadir sebagai sahabat.

Sang kakek yang duduk di sampingnya, dengan pakaian sederhana dan sarung khas daerah, tampak sangat nyaman. Gestur tubuhnya yang rileks menunjukkan bahwa di mata warga Tublopo, sosok "Pak Polisi" bukan lagi sosok yang ditakuti, melainkan sosok yang dirindukan kehadirannya untuk sekadar berbagi cerita di depan teras rumah.

Cerita dari Tublopo ini memberikan pesan bagi kita semua bahwa dedikasi tidak selalu harus diukur dengan prestasi di atas kertas atau penangkapan besar. Terkadang, dedikasi tertinggi seorang abdi negara diuji dari seberapa tulus ia mampu tertawa bersama rakyatnya di tempat paling terpencil sekalipun.

Tawa renyah Aipda Julius Selan dan sang kakek adalah simbol harmoni. Di tengah hiruk-pikuk dunia, momen sederhana di hari Selasa itu menjadi bukti bahwa kedamaian sejati seringkali ditemukan dalam kesederhanaan, dalam kepulan asap rokok lintingan yang santai, dan dalam ketulusan yang tak dibuat-buat. Tublopo hari itu tidak hanya aman secara statistik, tapi juga damai secara batin.