Polres TTU Lakukan Penanaman Jagung Serentak Kuartal I 2026, Dukung Swasembada Jagung
Penanaman jagung serentak yang dilaksanakan Polres TTU merupakan bentuk dukungan terhadap program ketahanan pangan dan swasembada jagung melalui optimalisasi lahan pertanian bersama pemerintah dan masyarakat.
Tribratanewsttu.com; Kefamenanu - Kepolisian Resor Timor Tengah Utara (Polres TTU) melaksanakan kegiatan penanaman jagung serentak kuartal I tahun 2026 sebagai bagian dari dukungan terhadap program swasembada jagung dan ketahanan pangan nasional.
Kegiatan tersebut berlangsung pada Sabtu (7/3/2026) sekitar pukul 15.30 WITA di lahan depan Asrama Polres TTU, Kefamenanu. Penanaman jagung dilakukan secara simbolis oleh jajaran Polres TTU bersama unsur TNI, pemerintah daerah, kelompok tani, dan masyarakat.
Hadir dalam kegiatan itu Wakapolres TTU Kompol Jemy Noke, Kabag SDM Polres TTU AKP I Wayan Guna, para pejabat utama Polres TTU, Pasi Ops Kodim 1618/TTU, perwakilan Pemerintah Kabupaten TTU, kelompok tani, serta masyarakat setempat.
Wakapolres TTU Kompol Jemy Noke mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bentuk dukungan Polres TTU terhadap program pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan melalui optimalisasi lahan pertanian serta peningkatan produksi jagung di daerah.
“Pada tahun 2025 Polres TTU telah melakukan penanaman jagung di atas lahan seluas 2.546 hektare sebagai bentuk dukungan terhadap program ketahanan pangan,” ujar Kompol Jemy.
Berdasarkan data sektor pertanian daerah, Kabupaten Timor Tengah Utara merupakan salah satu sentra produksi jagung di Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan produksi sekitar 42.945 ton jagung pipilan kering per tahun.
Secara regional, produksi jagung di NTT juga menunjukkan tren yang positif. Pada 2025, luas panen jagung di provinsi tersebut tercatat mencapai sekitar 114,52 ribu hektare dengan total produksi sekitar 305,34 ribu ton atau meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
Namun demikian, produksi jagung di wilayah TTU masih sangat dipengaruhi kondisi musim. Sebagian besar lahan pertanian di daerah ini merupakan lahan kering yang sangat bergantung pada curah hujan.
“Karena curah hujan yang masih terbatas, untuk kuartal pertama tahun 2026 ini kita masih menunggu hasil panen sebelumnya. Setelah itu baru kita akan kembali melakukan penanaman,” kata Kompol Jemy.
Selain faktor iklim, keberhasilan produksi jagung juga dipengaruhi oleh penggunaan benih unggul, pengolahan tanah yang baik, pemupukan yang tepat, serta pengendalian hama dan penyakit tanaman.
Dengan dukungan sarana pertanian seperti alat dan mesin pertanian, ketersediaan pupuk, serta pendampingan dari penyuluh pertanian, produktivitas jagung di Kabupaten TTU diharapkan dapat terus meningkat.
Melalui pengelolaan pertanian yang lebih baik serta kondisi musim yang mendukung, komoditas jagung di wilayah TTU diharapkan tidak hanya menjadi penopang ketahanan pangan daerah, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan para petani.***


